Batal Nikah Karena “Weton”?

Posted on Nopember 29th, 2009 in rileksdulu

novel dianing http://dianing.co.cc

Orang batal menikah karena weton tidak cocok? Mungkin Anda bertanya-tanya: apa sih weton? Ini adalah sesuatu yang berkaitan dengan hari lahir. Hari-hari dalam kalender Jawa punya pasangannya, seperti Pon, Pahing, Legi, dan sebagainya. Dalam masyarakat Jawa, weton sangat penting.

Bahkan hingga kini, sebagian masyarakat di Jawa masih menggunakan weton untuk memaknasi dan memutuskan sebuah peristiwa sosial, misalnya pertunangan, pernikahan, dan lain-lain. Pasangan yang menikah namun weton satu sama lainnya tidak cocok, dipercaya akan berakibat buruk di kemudian hari. Benarkah?

Inilah yang ditulis novelis Dianing Widya Yudhistira dalam novel terbarunya berjudul WETON, Bukan Salah Hari yang diterbitkan oleh Grasindo bulan lalu. Ia tak hanya mengulas konflik percintaan dan keluarga, juga konflik sosiologis dan psikologis tokoh-tokohnya dalam novel ini.

novelweton

Dianing adalah seorang penulis cerpen, penyair, novelis, dan sesekali menulis esai dan resensi buku. Karya-karyanya banyak dipublikasikan di media cetak dalam dan luar negeri seperti Republika, Media Indonesia, Koran Tempo, Jawa Pos, Tabloid NOVA, majalah sastra Horison, Suara Merdeka, Seputar Indonesia, Majalah Tunas Cipta (Malaysia), GEN (Malaysia), Bahana (Brunei Darussalam), juga di koran-koran daerah.

Ia memang cukup konsen dan peduli pada kekayaan lokal. Novelnya “Sintren” (Grasindo, 2007) masuk lima besar Khatulistiwa Literary Award 2007 — sebuah ajang penghargaan buku sastra bergengsi Indonesia. Novel yang pernah diterbitkan secara bersambung di Harian Republika pada 2005 itu mendapat apresiasi dari banyak kalangan dan dijadikan objek penelitian skripsi oleh banyak mahasiswa.

Weton pun, yang baru sebulan beredar di toko buku, kini telah dijadikan objek penelitian skripsi oleh mahasiswa. Ini karena kentalnya unsur lokalitas dalam novel itu, yang jarang disentuh oleh penulis atau novelis-novelis lain. Dalam sebuah wawancara dengan Jurnal Nasional, ia mengatakan memang ingin terus mengangkat lokalitas itu. “Sejauh ini saya akan terus menulis tentang budaya lokal, sehingga karya saya berbeda dengan yang lain,” kata Dianing. [C]



2 Responses

  1. novel yang perlu dibaca…mkasih infonya.

  2. ya mas, tema novel ini memang menarik dan unik. Tq

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

jika anda melihat tulisan ini, aktifkan css anda